Showing posts with label Samarinda. Show all posts
Showing posts with label Samarinda. Show all posts
TK Rajawali Samarinda : Sekolah dari Generasi ke Generasi

TK Rajawali Samarinda : Sekolah dari Generasi ke Generasi

TK Rajawali Samarinda : Sekolah dari Generasi ke Generasi
EKSTRAKURIKULER di TK Rajawali sekarang adalah menari. Murid yang mempunyai bakat menari bisa ikut tampil saat ada kegiatan atau perpisahan. Di hari Sabtu, para murid sekolah ini selalu diajak jalamn-jalan santai di sekitar sekolah, sembari membersihkan jalanan. Misalnya memunguti sampah dan daun-daun kering.

Sebelum memulai kegiatan belajar, para murid wajib mengikuti senam bersama di dalam ruang kelas. “Ini sebagai pemanasan, tujuannya agar para murid semangat dan tidak mengantuk saat kegiatan belajar dimulai,”jelas Fatmawati selaku Kepala TK Rajawali.

Sekolah ini memiliki dua ruang kelas dengan jumlah muridnya 33 anak. Fatmawati menjelaskan alasan jumlah murid di TK Rajawali sedikit dikarenakan TK ini hanya menerima anak yang usia nya mencapai usia TK yaitu 4 sampai 6 tahun. “Sebenarnya banyak orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya disini, tapi sayangnya usia mereka masih belum cukup. Akan lebih baik kalau mereka bersekolah di PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini),”jelas Fatmawati.

Murid-murid di TK Rajawali juga sering mendapat prestasi, seperti juara lomba menggambar, juara karnaval baju adat dan lainnya. Saat libur tiba, para murid di TK Rajawali biasanya selalu liburan bersama mengunjungi tempat wisata. Salah satunya adalah pantai Manggar yang ada di Balikpapan, Kebun Raya dan Waterpark di Samarinda.

TK Rajawali yang beralamat di Jalan Dahlia No. 09 kecamatan Samarinda Sebrang ini merupakan TK yang cukup tua di Samarinda. Karena berdiri sejak tahun 1979. “Saya sendiri yang saat SMP dulu mengantar keponakan saya bersekolah disini dan sekarang anaknya juga bersekolah di TK ini,”ujar Fatmawati. Fatmawati pun tidak menyangka akan menjadi kepala di TK Rajawali ini. Fatmawati mengatakan, sekolah ini banyak yang berubah pada bangunanya. “Karena bangunan TK ini sudah cukup tua. Jadi saya renovasi kembali agar terlihat bagus,”ucapnya.
Jalan Poros Bontang Samarinda : Apa Kabarmu?

Jalan Poros Bontang Samarinda : Apa Kabarmu?

Puaskah Lewat Samarinda-Bontang?
Oleh : Chrisna Endrawijaya

“JANGAN tanya saya, tanya sama yang survei.” Kalimat ini meluncur dari bibir Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak ketika berkunjung ke Bontang 25 April lalu.

Jawaban itu keluar, ketika saya bertanya pada Gubernur apakah ada korelasi antara jalan rusak Samarinda-Bontang dengan hasil survei sejumlah lembaga yang menyebut sebagian besar warga puas dengan kepemimpinan Awang Faroek sebagai gubernur di periode ini.

Tentu banyak yang ingin tahu, apakah hasil survei itu juga mewakili suara miring warga Bontang-Samarinda yang tiap hari merasakan ‘sakitnya’ punggung ketika melintasi jalan sepanjang 120 kilometer yang sama sekali tak mulus itu. Apa mereka termasuk golongan yang puas itu?

Juga pasti banyak yang ingin mendengar langsung, bagaimana komentar Gubernur atas kondisi jalan ini dan bagaimana tanggapannya atas keluhan warga yang sudah bosan mengeluh atas kondisi ini.

Karena toh ketika ke Bontang untuk menghadiri pengapalan perdana Liquefied Natural Gas(LNG) domestik di kilang PT Badak NGL saat itu, Awang Faroek jelas melintasi jalan tersebut.

“Pasti, pasti ada program perbaikan di instansi terkait,” ujar Gubernur, singkat. “Tapi soal itu (puas atau tidak warga Bontang-Samarinda), tanya sama yang survei, ya,” tutup gubernur.

Yah, keluhan soal jalan rusak Samarinda-Bontang memang sudah sering disampaikan. Bisa jadi, perbaikannya terasa pelan karena pejabat ketika melintas menggunakan kendaraan yang terlalu bagus dan terlalu nyaman.

Shock-breakeratau per kendaraannya pasti kualitas bagus. Sehingga kurang merasakan getaran ketika melintasi lubang-lubang yang bertebaran sepanjang jalan.

Karena fakta yang dirasakan warga ketika melintas, jalan Samarinda-Bontang sangat tidak nyaman.

Saya sudah merasakan semua kendaraan menempuh rute Samarinda-Bontang. Mulai menggunakan motor Yamaha MX milik pribadi, naik bus umum AC dan non-AC, naik ‘taksi gelap’ jenis Avanza, hingga taksi resmi jenis sedan. Perjalanan ini sudah saya lakukan selama 1 tahun setengah ini.

Tiap-tiap kendaraan, memiliki tingkat kenyamanan yang berbeda ketika melintasi jalan rusak Samarinda-Bontang.

Yang paling menderita tentu saja ketika menggunakan bus. Padahal (para pejabat harus tahu), meski bikin menderita, transportasi bus Samarinda-Bontang masih diminati. Sekali berangkat, minimal ada 30 orang yang menumpang. Dalam sehari, bisa 5 hingga 6 kali bolak-balik. Artinya, ada ratusan penumpang yang naik.

Namun, pernahkah para pejabat pemegang anggaran merasakan ‘nikmatnya’ naik bus umum ini? Atau minimal melihat kondisi bus itu?

Bagi yang pertama ke Bontang pakai bus, pasti langsung kaget. Karena secara visual kurang meyakinkan. Busnya berkarat dan terkesan tua.

Biasanya kondisi bus non-AC memang sekadarnya. Dalam arti, bus layak jalan, tapi tingkat kenyamanan rendah. Tapi inilah transportasi termurah. Hanya Rp 20 ribu, penumpang sudah bisa sampai Bontang dari Samarinda.

Bagi penumpang bertinggi 170 cm, siap-siap kaki tertekuk paksa dan keram karena luas tempat duduk kekecilan. Yang paling sadis, adalah kondisi shock-breaker yang tak sama dengan mobil pejabat.

Menurut saya ini benar-benar sadis, karena ketika melintasi lubang ukuran sedang atau jalan rusak kategori sedang, bunyinya sudah nyaring dan penumpang tergoncang. Apalagi ketika melintasi lubang yang posisinya setelah turunan, pasti lebih sengsara. Karena bus ketika turunan bukit, pasti laju. Naif bila berharap si sopir mengurangi kecepatan, lebih baik mempersiapkan punggung dan bokong agar bisa beradaptasi pada guncangan-guncangan itu.

Kondisi ini akan Anda rasakan selama 3 jam perjalanan. Ketika turun, badan sakit dan tak nyaman. Tapi bagi warga yang sudah biasa, tak lagi mengeluh, hanya berdoa semoga pejabatnya diberi kesempatan merasakan hal yang serupa.

Kondisi jalan rusak sepanjang tahun di rute Bontang-Samarinda memang benar-benar miris. Saya pernah meliput gempa 7,6 skala Richter yang menghantam Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat 30 September 2009.

Ketika masuk ke kampung-kampung terpencil, jalannya mulus aspal. Bahkan meski lebar jalannya hanya 4 langkah, tetap aspal. Sungguh mengagumkan, karena Padang Pariaman bukanlah daerah sekaya Kaltim, karena APBD-nya rata-rata hanya Rp 600 miliar per tahun. Saya yang saat itu pergi bersama Kepala Bagian Pertambangan Umum Dinas Pertambangan Kaltim Frediansyah, hanya geleng-geleng kepala.

Saat itu terbesit di pikiran kami, mungkinkah jalan Samarinda-Bontang semulus ini?

Padahal itu bunyi doa 4 tahun yang lalu. Mungkin bunyi doa yang sama yang tiap hari dihaturkan ratusan penumpang bus rute Samarinda-Bontang tadi. Sayangnya hingga kini belum dikabulkan.

Mudah-mudahan, perbaikan jalan Samarinda-Bontang, hingga Sangatta bisa jadi jualan politik menjelang pilkada gubernur Kaltim 2013. Sehingga minimal terus dibicarakan, dan dijanji-janjikan. Karena kalau masih dibicarakan para elit politik dan pejabat, berarti harapan agar jalanan mulus masih ada.